Tersenyumlah kepada Setan (1)


Bissmillahirrohmanirrohim.

Jika anda telah menyempatkan waktu anda membaca postingan ini, insya ALLAH anda termasuk yang diberikan hidayah.

Apabila Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui upayamu, itu lebih baik bagimu daripada apa yang dijangkau matahari sejak terbit sampai terbenam. (HR. Bukhari dan Muslim)

23834_387037668969_370285793969_3899011_4208168_n

Alhamdulillah, sejak perjalanan rohani saya di baranglompo selama 3 hari, saya mulai belajar membentuk—atau dibentukkan?—integritas menjadi sebetul-betulnya seorang muslim yang baik; mencintai sunnah Rasul, mengurangi berbicara dan berkegiatan sia-sia, memuliakan akal sekaligus menjaga hati, menjauhi perkara-perkara pengeras hati, berkhidmat dan berdakwah. Sederhananya, saya merasa ALLAH SWT telah memberi hidayah, Alhamdulillah, semoga terus istiqomah, aamiin..

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. – Qs Al Israa’ : 15

Mata saya terbuka, saya menyadari bahwa banyak di antara ummat muslim—termasuk saya yang dulunya hanya mengetahui agamanya melalui kelas-kelas, ceramah-ceramah jumat atau kajian—telah tenggelam dalam dunia. Sunk by earth into the earth.

Saya ingat suatu pertanyaan dari seorang ustadz ketika itu :

“Apa bedanya antara orang yang tenggelam dalam dunia dan orang yang tenggelam dalam laut?”

Saya terperangah, walaupun berpikir mendapat jawabannya, saya tetap diam, karena tidak ingin menjawab secara soktahu saya pun bertanya balik :

“Apa bedanya, ustadz?”

Dengan tenang dan lembut, sang ustadz memberitahu saya bahwa tenggelam dalam dunia ialah apabila semakin tenggelam, semakin tidak merasa bahwa seseorang tenggelam. Beda sekali apabila orang itu tenggelam di laut, seseorang pasti akan merasakan bahwa paru-parunya terisi dengan air, lehernya tercekik, matanya berkunang-kunang, hingga kepala pusing. Mungkin satu satunya persamaan dari keduanya adalah mereka mengantarkan kematian dengan cara yang menyedihkan.

Selama kamu masih bersama nafsumu, kamu tidak akan mengenal Al-khaliq. Selama kamu masih bersama dunia, kamu tidak akan mengenal Akhirat

Perumpamaan lain, cobalah ambil sebuah buku atau note, atau apa saja yang mempunyai dua sisi dan dapat ditulisi. Catat setiap detil dari kegiatan anda, bahkan apa yang anda lakukan atau bicarakan maupun pikirkan sesaat setelah anda bangun, lakukan sampai anda ingin tidur lagi. Seperti biasa, tanpa mengetahui anda sedang membuat catatan sebagai penilitian tentang hal ini. Tulis “what do you do for your life?” di sisi satu dan disatu sisinya lagi “what do you do for your life after death?”. Lalu isi.

Apa yang paling menyita tenaga anda? Berbicara sia-sia? Beraktifitas yang zalim? Durhaka terhadap kedua orang tua? Bergosip? Berkegiatan yang tidak mengundang ridho ALLAH? Menyakiti saudara? Berbuat curang? Berzina?

Apa yang paling menyita pikiran anda? Penampilan anda? Pacar anda? Istri anda? Suami anda? Pekerjaan anda? Anak-anak anda? Hobi anda?

Apa yang paling menyita perasaan anda? Iri hati? Syirik? Cemburu? Marah? Dongkol? Ria? Bersedih? Cinta berlebihan terhadap makhluk? Cinta berlebihan terhadap dunia?

Lakukan selama 10 hari saja. Lihat hasilnya. Dengan jujur tanpa keinginan munafik atau alasan apapun, kita akan mendapati bahwa ternyata lebih banyak waktu yang terbuang untuk urusan dunia—alih-alih menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat sebesar 50-50; Sholat di nomor duakan, atau mungkin di nomor tigakan, sering dikerjakan hanya pada waktu-waktu terakhirnya, atau mungkin tidak dikerjakan sama sekali, Ajaran yang kita dapatkan dari kajian atau ceramah yang harusnya kita sebarkan keluar malah berkeadaan terbalik, urusan dunia dan seluruh hal melalaikan kita bawa masuk ke masjid, kita bawa masuk ke dalam tarbiyah, atau kajian. Astaghfirullahaladzim.

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman – QS. Al – Baqarah : 212

Maka jika demikian, setan akan tersenyum kepada diri kita, mereka tak perlu bekerja keras menyesatkan, melalaikan, menipu, dan memperdayakan kita. Karena kita sendiri yang menciptakan ini semua, karena kita sendiri yang memperdaya diri kita. Bukan orang lain, tapi kita sendiri. Our life, Our decision, Our risk, Our responsible.

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya – QS : Al Muddatstsir : 38

Umpamakan kita telah berencana untuk berkunjung ke negara lain yang jauh dari tempat asal kita. Kita mempersiapkan segalanya, sarana dan prasarana yang kita butuhkan ketika berada di sana : sikat gigi, pakaian, alat cukur, baju dalam, dan lain lain. Ketika kita sampai di tempat tujuan, dan dengan kaget mengingat bahwa kita melupakan sesuatu, misalnya : berkas penting. Maka bagaimana jadinya perasaan kita? Menyesal? sudah tentu. Lalu, jika itu terjadi ketika di akhirat? what do you say? Naudzubillah.

Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Apakah ini yang kita inginkan? Apakah kita tidak merindukan wajah Rasulullah SAW di surga tertinggi ALLAH SWT? Semua muslim di antara kita pasti menjawab; YA! saya merindukan Rasulullah SAW, saya ingin masuk surga.

Seorang masuk surga bukan karena amalnya tetapi karena rahmat Allah Ta’ala. Karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar). (HR. Muslim)

Hal yang kita hanya perlu lakukan adalah senyum kepada setan, lakukan setiap kali ia membisikkan kejahatan terhadap hati kita, keraguan pada nurani kita, kerisauan dalam jiwa kita. Tersenyumlah pada setan, karena kita tahu kita tidak akan mengikutinya, mengikuti bisikan yang menipu hati kita, memasukkan cinta dunia yang berlebihan yang dapat menjauhkan kita pada-Nya, menyediakan segala sesuatu yang mendekatkan kita pada fitnah dan mudharat dunia. Tersenyum saja, dan lakukan apa yang seharusnya anda lakukan sebagai seorang muslim yang mengetahui bahwa dunia adalah penjara, sedangkan akhirat adalah kebebasan sesungguhnya; muliakan akal.

yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. QS Az Zumar : 18

Semakin tinggi dan semakin getol kita berjuang, semakin tinggi cobaan dan godaan akan menimpa kita. Tapi jangan berhenti, apabila kita menang dalam setiap godaan yang datang, insya ALLAH iman kita akan semakin naik, baik, dan kuat. Karena saya percaya, iman bukanlah sesuatu yang kita pelajari dari harfiah dan pengertiannya, iman kita pelajari dari merasakan, melakukan, dan berkorban untuk mendapatkannya.

Ketika anda menyadari bahwa anda telah diberi hidayah, jangan sekali-kali melepaskannya, karena tidak ada menjamin bahwa hidayah akan datang lagi kepada anda; hidayah akan semakin susah didapat.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. – Qs Al kahfi : 28

Demikian tulisan singkat ini saya buat untuk konsumsi pribadi. Sebagai pengingat ketika saya lupa, sebagai peningkat iman saya apabila turun di kalanya. Jika ada kesalahan itu datang dari saya, dan apabila ada kebaikan yang bisa dipetik, itu datang dari ALLAH SWT. Wallahua’lam.

Related Post : …               …………………………………………………………… …………………..                                                

More at : Dakwah

Iklan

13 thoughts on “Tersenyumlah kepada Setan (1)

  1. Ping-balik: Tweets that mention Tersenyumlah kepada Setan (1) « Rahmatullah Barkat's -- Topsy.com

  2. Ratu , terima kasih untuk selalu ingatkan sy akan post2 terbarumu. I appreciate it.

    I couldn’t believe my eyes. This is magnificent, Ratu! Gaya menulismu lebih humble, interaktif, menarik, dan tidak berlebihan. Well done!

    I highly recommend you to keep writing like this, kalo memang tujuannya dakwah. Banyak orang, termasuk saya, tidak suka dengan tulisan-tulisan agama yang terlalu memojokkan, menyinggung kaum lain, menjelek-jelekkan agama lain, atau kesannya terlalu menyerang. This is the best way, Dude. Write it peacefully tanpa mengurangi makna atau tujuan tulisanmu.

    Keep the good work. Saran ya…make it more “from-you-to-me” kind of writing.
    Semoga Allah selalu bersamamu.

    Then…you got me (again), i guess.

    • you are welcome dude!
      i also aprreciate your awesome comments.

      yeah, many things happened. tapi saya juga masih belajar, ingat masih belajar..
      makasih ya 🙂

      saya setuju, sbaik-baiknya dakwah adalah dari hati ke hati. hhe, kita sudah bicarain kan? 😉

      ok, sya selalu ingat saran from-you-to-me nya 😀
      amin, semoga ALLAH juga bersamamu.

      hihihi 😀

  3. bagus……..!!!!!
    tApi maSiH kuRang mnyEntuH…..peMaParanx ttg pentingx smua itu tuk dilakukan msh perlu di pertajam,apalg dgn reader yg msh sngat awam ttg agama sperti sy…..perlu baxk gmbaran, untuk apa hal trsebut hrus dilakukan.perlu baxk kata yg bs menjebak otak untuk memikirkanx….
    dasar2 berupa hadist n ayat2 al quran jg msh perlu ditmbahkan….sehabis mmberikan stu cntoh sebaiknya diberi penjelsan brdsrkan alquran atow hadist

    • yah, sangat suka dengan komentar anda 😀
      masalhnya, penulis nya juga masih awam, hihih.

      baiklah
      kata2 yg menjbak otak untuk memikirkan
      alasan penting untuk melakukan.
      hadits atau ayat diperbanyak.
      insya ALLAH

  4. good..good…
    tapi qt perlu ingat Mengapa Alllah Menciptakan ruang salah dan ruang tobat karena semua yang dilakukan pasti ada Hikmahnya dan setiap manusia pasti punya dosa… 😀

  5. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ketika orang lain bergantung pada dunia, gantunglah dirimu hanya kepada Allah. Ketika orang lain merasa gembira dengan dunia, jadikanlah dirimu gembira kerana Allah. Ketika orang lain merasa bahagia dengan kekasih – kekasih mereka, jadilah dirimu merasa bahagia dengan Allah. Dan ketika orang lain pergi mengadap raja – raja dan para pembesar mereka untuk mengais harta dan mencintai mereka, jadikanlah dirimu betul – betul mencintai Allah.”

    Smoga qt tak termasuk org2 yg bergantung pd dunia. syukran ut nasehatnya. salam ukhuwah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s