Sakit Hati


pernah saya sakit hati

tapi tidak seperti ini

pernah saya merasa mau memaki

tapi tidak sedalam ini

orang begitu gampang menyebut kata pisah

begitu gampang menghakimi, bukan meyakini..

orang begitu gampang menjauh mengakhiri

segampang mereka dapat lagi mengawali

hidup itu tidak sehina ini kan?

bukan seperti ini kan?

ketika dendam melandasi tindakan

ketika ego bermain peran

aku belajar banyak

memahami banyak

menyakiti dan tersakiti juga dengan banyak

aku bangga, namun sekaligus merasa telah kalah telak


hidup adalah something we face out..

bukan something we ignore from..

karena hidup itu tautan antara insan

bukan dendam aksara buta perasaan

cinta itu tak harus bernama

cinta sendiri tak pernah jelas adanya

kadang disebut penyatu

kadang disebut kelabu

begitu terus hingga kepalaku ingin meledak

membuat emosiku memuncak

namun pikiranku tetap murni

selama cinta masih dihati


karena ku yakin, haqqul yakin..

sakit hati

tidak harus menyakiti

sakit hati

tidak harus pergi menjauh tanpa jejak kaki

sakit hati

bagaimana ketika kita introspeksi

saling memahami

satu antara lain

di alam bumi ini..

salam perdamaian..

salam cinta..

Iklan

2 thoughts on “Sakit Hati

  1. Dengarlah dengan hatimu, bacalah dengan perasaan. Cernalah dalam jiwamu. Ku datang bukan untuk menghitung sebesar apa cintamu, bukankah aku telah memintamu untuk ikhlas?. Hati ini tersenyum dan bersorak saat ku ungkapkan kata cinta untukmu. Bukan mulutku yang berbicara, tetapi hati dan jiwa telah menyelimutimu dengan hangatnya ucapanku.

    Berfikir ku kembali menerawang kedalam jiwa, mengapa cinta ini ada?, ku tak mampu mencapai batas akhir jawaban apa yang aku dapat, ku ikhlaskan seluruh jiwa dan raga ini untuk ungkapkan rasa yang ku alami. kembali ku mengukir sebuah nama dalam barisan teratas diantara kalimat-kalimat cinta terindah lainnya. Hingga tetesan cairan emas yang dilebur menghiasi sisi ukiran itu. Ku tebarkan butiran permata diantara goresan hati yang pernah terluka saat ku mengukir nama selain dirimu.

    Begitu indahkah namamu? begitu elokkah ukiran dihatiku hingga aku susah untuk melupakan dan menghapus semua itu. Ku coba tetap lalui semua hal yang terbaik bersama dirimu. Masih terbayang indahnya panorama cinta yang kita bangun begitu elok senyum yang kita ukir dalam setiap hendakan waktu. Aku sungguh merasa tidak bisa sendiri tanpa hadirnya sentuhan lembut dari keanggunan cintamu. Ku tak mampu berpaling walaupun begitu ombak menyapu sebagian pantai hingga kau berlalu.

    Ku raba dan ku cari kemana arah yang harus ku tuju. di saat aku tak lagi bening indahnya matamu. Kembali ku terawang mengapa cinta itu ada untukmu?. kembali ku berpikir, namun akhirnya tertidur pulas dan bermimpi. Entah apa lagi mimpi yang akan ku ceritakan padamu. Tidak semua mimpi itu jadi kenyataan.

    Ku teringat kisah saat kita tersenyum dan tertawa bersama, Saat kita berjuang melalui sebuah badai dan cobaan. Kita begitu tegar bukan?. Tak ada lagi yang mampu menggoyahkan kita. Kita telah kuat untuk berjalan. Tapi saat kerikil kecil yang menimpa kita, tersentak tanganmu tiba-tiba melepaskan genggaman ikrar yang kita buat dengan di bubuhi tanda tangan dua hati yang terbuat dari air liur berupa kata-kata yang tak terbilang jika dibeli dengan emas permata, kata-kata yang sangat berharga, kata-kata yang begitu dalam jika dibandingkan dengan dalamnya samudra.

    Kerikil itu sangat kecil hingga kita tak mampu melewatinya kau dan aku terjatuh, berpaling dan berderai seperti manik-manik tasbeh yang putus dari talinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s